Nabi dan Rasul adalah manusia pilihan Ilahi yang menjadi utusan-Nya di muka bumi untuk membimbing manusia untuk mengenali dirinya dan jalan mana yang mesti ditempuh guna menghantarkan manusia kepada cita-citanya yaitu menjadi insan kamil.
Nabi Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul. Beliau adalah cahaya dan panutan bagi setiap insan. Ahlaqnya adalah al qur’an. Dialah kota ilmu rujukan para pencari kebenaran.
Dengan berlalunya waktu, sang nabi pun kembali kepangkuan Sang Kekasih yang dirindukannya dan beliau menanti umatnya di Telaga Keabadian. Sebelum mangkat, dia telah meniggalkan dua pusaka bagi para pengikutnya supaya tidak tersesat lagi selepas kepergiannya, yaitu al qur’an dan itrahnya. Keduanya takkan terpisahkan hingga bertemu lagi dengan rasullah saw di telaga haudh.
Al qur’an adalah pedoman bagi orang-orang mukmin, sedangkan itrah nabi saw adalah juru penerang al qur’an.
Siapakah itrah nabi itu? Mereka adalah adalah manusia-manusia suci dan disucikan oleh Yang Maha Suci, yaitu Sayidah Fatimah Az zahra, Imam Ali bin Abi Thalib, Imam Hasan, dan Imam Husain as. Itrah nabi (ahlul bait) disebut juga ahli kisa. Hadist ahli kisa ini diriwayatkan istri baginda nabi, ummu salamah.
Kesucian ahlul bait tidak terbantahkan, karena baik suni maupun syiah sepakat bahwa, Imam Ali as adalah pintunya kota ilmu Nabi, sayidah Fatimah as adalah sayidatun nisa alamin, Imam Hasan dan Imam Husain as adalah penghulu pemuda semesta alam.
Ahlul bait nabi saw laksana bintang-bintang di langit, bila satu tenggelam yang lain akan muncul sebagai pengganti. Kehadiran mereka di dunia adalah hujjah yang nyata bagi para pencari kebahagian hakiki. Nabi bersabda: ‘ Ahlul baitku laksana bahtera nuh, siapa yang ikut pasti selamat, dan yang menolak pasti binasa. Jadi mengikuti ahlul bait nabi adalah suatu keharusan bila ingin selamat dunia akherat, karena mereka adalah manusia suci yang disucikan Allah swt (Q.S al ahzab:33).
Makna lain dari mengikuti ahlul bait adalah bersalawat kepadanya. Sedangkan salawat adalah wajib dalam salat. Salat tidak sah bila tidak bersalawat kepada nabi dan keluarganya. Begitu agungnya ahlul bait nabi ini, sehingga meraka sebanding al qur’an itu sendiri. Maka amatlah logis jika al qur’an dan ahlul bait nabi adalah dua pusaka paling berharga bagi para pencari jalan keselamatan dunia akherat.